MULTIPLIER EFFECT KAWASAN PERMUKIMAN TERHADAP KEGIATAN EKONOMI KOTA

MULTIPLIER EFFECT KAWASAN PERMUKIMAN TERHADAP KEGIATAN EKONOMI KOTA

Oleh: Kiptiya Ayu Agustina

PENDAHULUAN

Perumahan dan permukiman merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang mempunyai peran yang strategis dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dalam UUD 1945 pasal 28 huruf H, dinyatakan bahwa setiap orang berhak bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan yang baik dan sehat. Selanjutnya dalam UU Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Azasi Manusia pada pasal 40 dinyatakan bahwa setiap orang berhak untuk bertempat tinggal serta berkehidupan yang layak. Lebih lanjut dalam UU Nomor 4 Tahun 1992 Tentang Perumahan dan Permukiman dinyatakan bahwa setiap warga negara mempunyai hak untuk menempati dan/ atau menikmati dan/ atau memiliki rumah yang layak dalam lingkungan yang sehat, aman, serasi, dan teratur.

Melihat banyaknya hal mengenai perumahan dan permukiman yang tercantum dalam perundang-undangan kita dapat melihat pentingnya pembangunan perumahan dan permukiman di suatu wilayah. Aspek permukiman menjadi suatu hal yang dominan dalam perkembangan kota karena aspek ini merupakan unsur awal adanya desa yang selanjutnya berkembang menjadi kota dan selalu menjadi embrio dalam perkembangan suatu kota.

Pada masa sekarang ini, perumahan tidak dapat hanya dilihat sebagai tempat berteduh bagi suatu keluarga saja, namun juga dapat memberikan suatu efek pengganda atau multiplier effect bagi kegiatan kota lainnya khususnya perekonomian. Perumahan dapat berfungsi sebagai fokus aktifitas ekonomi, elemen pertumbuhan ekonomi kota, distribusi pendapatan, serta pemenuhan kebutuhan sosial. Melihat adanya efek pengganda dari kawasan permukiman terhadap kegiatan perekonomian kota, maka hal tersebut menarik untuk dikaji lebih dalam.

PEMBAHASAN

Peningkatan jumlah penduduk di Indonesia yang mencapai 1,6% tiap tahunnya membuat permintaan masyarakat akan perumahan dan permukiman menjadi meningkat pesat. Kebutuhan akan perumahan tersebut membuat semakin banyaknya pembangunan kawasan perumahan serta permukiman baru di kota mulai dari kelas sederhana, menengah sampai elite.

Semakin banyaknya pembangunan kawasan perumahan diyakini mempunyai konstribusi yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi baik nasional maupun kota. Selain itu, keberadaan kawasan permukiman memberikan efek pengganda bagi kegiatan perekonomian perkotaan. Efek pengganda tersebut antara lain:

1. Peningkatan Iklim Investasi

Pasar perumahan atau hunian menjadi pasar yang menarik bagi iklim investasi dalam suatu kota karena rumah adalah bagian dari kebutuhan pokok manusia. Jika permintaan akan perumahan di suatu kota meningkat maka hal tersebut memberikan harapan bagi investor bahwa perumahan yang dibangun nantinya akan dibeli oleh masyarakat. Harapan tersebut membuat iklim investasi di kota menjadi meningkat dan mendukung pertumbuhan ekonomi wilayah tersebut.

2. Peningkatan Kawasan Perdagangan dan Jasa

Berkembangnya kawasan permukiman mengakibatkan peningkatan pula pada kawasan perdagangan dan jasa. Kebutuhan masyarakat akan sandang, pangan, kebutuhan sekunder serta kebutuhan tersier membuat hal tersebut harus dipenuhi sehingga makin banyak penyedia jasa serta pedagang yang menyediakan kebutuhan tersebut. Sejalan dengan itu, pembangunan perumahan di suatu wilayah akan senantiasa diikuti dengan pembangunan sarana dan prasarana kesehatan, transportasi, pendidikan, peribadatan, penerangan, air bersih dan telekomunikasi, yang akan menggerakkan perekonomian.

3. Penyerapan Tenaga Kerja

Rumah selain kebutuhan dasar bagi manusia yang harus tepenuhi, juga merupakan pendorong kegiatan lain serta mendorong terciptanya lapangan kerja yang mampu menyerap tenaga kerja cukup signifikan. Hal ini dapat dilihat pada pembangunan perumahan dan properti. Pada umumnya, proyek tersebut menarik tenaga kerja yang cukup banyak sehingga lapangan kerja yang tersedia di suatu kota pun menjadi meningkat. Menurut Witoelar (2001), sebagai gambaran bahwa dalam satu milyar rupiah investasi di bidang perumahan dan properti akan menciptakan lapangan kerja secara langsung sebesar 105 orang dan 360 orang secara tidak langsung dalam setahunnya.

4. Peningkatan Pendapatan Sektor Lain yang Terkait dengan Perumahan

Beberapa sektor yang merasakan dampak terbesar dari adanya pembangunan perumahan adalah sektor industri kayu, pertambangan dan galian, industri BBM dan LNG, bahan bangunan dari logam, dan sektor barang-barang logam lainnya. Sektor-sektor tersebut turut merasakan dampak positif dari adanya pembangunan perumahan dan mampu meningkatkan pendapatan kota.

5. Pengaruh terhadap Ekonomi Makro Negara

Sektor konstruksi adalah sektor yang mengambil bagian yang cukup besar dalam pertumbuhan nasional suatu negara. Salah satu bagian dari sektor ini adalah pasar perumahan atau hunian. Pasar perumahan di negara-negara maju seperti US, Jepang, dan UK sangat mempengaruhi perekonomian negaranya, khususnya transaksi berjalan. Berkembangnya sektor ini tidak terkecuali hanya di negara-negara maju saja, tetapi juga negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Pembangunan perumahan memberikan efek peningkatan konsumsi dan investasi di suatu kota yang tentu saja mempengaruhi kondisi perekonomian makro suatu negara. Secara agregat, pertumbuhan ekonomi akan meningkat. Pertumbuhan ekonomi yang meningkat jelas akan mempengaruhi harga domestik. Peningkatan harga domestik secara relatif terhadap harga luar negeri jelas akan mempengaruhi nilai tukar mata uang domestik. Pada akhirnya akan mempengaruhi posisi transaksi berjalan Indonesia.

Selain mempengaruhi harga domestik, Investasi di bidang perumahan/properti akan menciptakan efek multiplier terhadap penghasilan sekitar dua kali pada negara berkembang, artinya investasi di sektor perumahan/properti akan menghasilkan dua kali lipat produksi/penghasilan pendapatan nasional. Di Indonesia besarnya multiplier efek ini baru mencapai 170 %. Investasi di sektor perumahan dan properti pada suatu negara berkisar antara 2 – 8 % dari produk domestik bruto (PDB). Besarnya kontribusi dari sektor ini akan meningkat sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi suatu negara. Pengalaman investasi pada sektor ini di Indonesia kontribusi pertumbuhan ekonomi baru mencapai 2,6 %.

Melihat efek ganda dari pembangunan kawasan perumahan dan permukiman terhadap kegiatan perekonomian perkotaan maka harus dipikirkan suatu cara agar kawasan permukiman tetap memberikan efek yang positif terhadap perekonomian kota. Saran yang dapat diberikan antara lain:

  1. Meskipun perumahan memberikan iklim investasi yang baik bagi suatu kota, namun pemerintah kota tetap harus membuat zoning yang seimbang antara kawasan permukiman, perdagangan-jasa, sosial, ruang terbuka hijau dan lain-lain. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari adanya perubahan guna lahan untuk kepentingan satu pihak saja.
  2. Untuk meningkatkan kontribusi pembangunan perumahan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, perlu dilakukan pengembangan pusat kegiatan industri, terutama sektor industri kayu, pertambangan dan galian, industri BBM dan LNG, bahan bangunan dari logam, dan barang-barang logam lainnya.
  3. Pemerintah harus dapat menyediakan infrastruktur yang memadai agar seluruh masyarakat di kota tersebut dapat terlayani dengan baik dan mampu meningkatkan kegiatan perekonomian kota.

PENUTUP

Permukiman dengan kegiatan perekonomian memiliki hubungan timbal balik yang sangat erat. Perkembangan perumahan akan terdorong dan terkendali oleh ketersediaan sarana prasarana yang pada akhirnya akan membawa efek pengganda bagi kegiatan perekonomian perkotaan. Sebaliknya kegiatan perekonomian perkotaan dan pembangunan sarana prasarana terjadi karena adanya pembangunan perumahan dan permukiman.

Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat efek pengganda dari perumahan dan permukiman bagi kegiatan perekonomian perkotaan, antara lain:

  1. Peningkatan iklim investasi
  2. Peningkatan kawasan perdagangan dan jasa
  3. Penyerapan tenaga kerja
  4. Peningkatan pendapatan sektor lain yang terkait dengan perumahan
  5. Pengaruh terhadap ekonomi makro negara

Perumahan dan permukiman akan terus membawa dampak yang positif bagi perekonomian suatu kota dan negara jika didukung oleh penyediaan infrastruktur serta pengendalian oleh pemerintah yang bersangkutan. Jika tidak didukung oleh infrastruktur yang baik dan tidak ada pengendalian oleh pemerintah maka adanya kawasan perumahan dan permukiman dikhawatirkan akan membawa dampak yang negatif bagi perekonomian kota.

REFERENSI

Deputi V Menko Perekonomian. Studi Dampak Pembangunan Perumahan terhadap Pertumbuhan Ekonomi. Diunduh tanggal 27 September 2009 dari http://www.ekon.go.id/content/view/465/195/

Tutuko, Pindo. 2008. Kebijakan Pembangunan Perumahan dan Permukiman sebagai Instrumen Pengarah Pengembangan Wilayah dan Distribusi Populasi. Diunduh tanggal 27 September 2009 dari http://pindotutuko.blogspot.com/2008/12/kebijakan-pembangunan-perumahan-dan.html

Witoelar, E. 2001. Visi Perumahan dan Permukiman di Tengah Krisis Ekonomi, Kementrian Permukiman dan Prasarana Wilayah. Jakarta: Kementrian Permukiman dan Prasarana Wilayah.

About kiptykipty

22 y/o on going. An urban and regional planning bachelor. An ordinary girl that has unordinary dream.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: